Opinion

Menjadi “Ayah”

“Mas, itu adiknya dinasehati,” demikian penggalan kata-kata Ibu di Line pagi itu. Belasan bulan lalu, pesan seperti ini bisa dibilang agak jarang. Saya adalah orang terakhir di rumah yang akan dimintai tolong Ibu untuk menasehati adik-adik. Peran ini biasa dijalani oleh bapak saya (allahuyarhamh). Selain karena saya yang jarang berada di rumah, saya seringkali tidak terlalu tegas di hadapan adik-adik. Barangkali karena terlalu sayang atau mungkin “tahu diri” bahwa posisi saya sebagai kakak lebih kepada mendampingi dan menyemangati, bukannya menceramahi mereka. Nasehat seorang kakak tentu tetap perlu, tetapi porsinya tidak besar dan lebih sebagai pelengkap bagi nasehat-nasehat bapak dan ibu. Semuanya jadi berbeda sejak kepergian bapak beberapa bulan lalu.

abi
Continue reading

Advertisements
Standard
Opinion, Project

Belajar Membuat Roadmap Hidup dari Ilmu Robotika

Sewaktu kuliah S1 dulu, sering sekali saya diminta membuat life planning atau rencana hidup, khususnya ketika masa-masa awal aktif di organisasi. Seringkali, karena minimnya pengetahuan dan barangkali keinginan yang begitu banyak, life planning yang saya buat kala itu hanya berisi daftar mimpi belaka tanpa ada perencanaan yang jelas bagaimana cara mendapatkan mimpi-mimpi itu. Sebenarnya ini tidak sepenuhnya salah juga. Setiap orang toh berhak bermimpi setinggi-tingginya. Tetapi sungguh sayang ketika mimpi-mimpi yang sudah kita bangun dari muda itu tidak dilengkapi dengan strategi yang matang tentang bagaimana mewujudkannya. Rupanya, cara membuat roadmap ideal ini dipelajari ilmu robotika, khususnya di bidang path planning. Lalu, apa saja syarat-syarat sebuah roadmap yang baik itu?

roadmap
Continue reading

Standard
Opinion

Pulang?

“Ataka, apa hari ini di rumah atau ada acara? Jika ada waktu saya mau maen mungkin sekalian pamit. Insyaallah Rabu minggu ini saya balik ke Indonesia.” Sebuah pesan masuk ke akun Whatsapp saya belum lama ini. Pengirimnya adalah seorang teman ngaji dan diskusi selama beberapa bulan belakangan ini. Membaca pesan tadi, saya diam sejenak dan berpikir. Ternyata, sudah delapan bulan berlalu sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini. Tahun ajaran 2014-2015 sudah berakhir dan tak sedikit teman-teman saya selama delapan bulan ini akan mengakhiri studi dan perantauannya, kembali ke kampung halaman. Sungguh demikian cepat waktu berlalu.
Continue reading

Standard
Opinion

Surat untuk Dik Aylan Kurdi nun Jauh di Sana

Dear dik Aylan Kurdi…

Bagaimana kabarmu? Semoga kau baik-baik saja di sana ya. Apa yang tengah kau lakukan dengan abang dan bundamu? Main boneka atau main bola? Baiklah, kakak tak mau mengganggumu dulu. Sudah lama bukan tak bisa kau nikmati nyamannya bermain seperti sekarang? Sudah terlalu lama bukan kau terbelenggu dan terganggu oleh desingan peluru yang tak henti-hentinya itu?

aylan8
Continue reading

Standard
Opinion

Puasa dan Kuliah Kerja Nyata.

Membaca tulisan mas Zen Rs bertajuk “Ibadah sebagai Piknik” semalam, saya jadi teringat pengalaman Ramadhan dua tahun lalu, yang bertepatan dengan masa-masa Kuliah Kerja Nyata di Dusun Kalipagu, Baturraden, tepat di kaki Gunung Slamet. Saat itu adalah pertama kalinya saya berpuasa sebulan penuh sekaligus berlebaran tidak bersama keluarga. Awalnya saya mengira itu akan jadi momen yang tidak mudah, tapi ternyata justru jadi pengalaman puasa yang paling berkesan sampai saat ini.

kalipagu
Continue reading

Standard
Opinion

Arti namamu: Ahmad Ataka Awwalur Rizqi.

“Ahmad” berasal dari bahasa Arab, mempunyai akar kata yang sama dengan “Muhammad”, yang artinya kurang lebih “yang terpuji”.

Meski banyak yang mengira berasal dari bahasa Jepang, kata “Ataka” pun berasal dari bahasa Arab, dan beberapa kali muncul di ayat-ayat Quran dalam kalimat “Hal ataaka hadiitsu…” seperti dalam surat An-Naazi’at, Al-Buruuj, dan Al-Ghosiyah. Artinya kurang lebih “telah datang kepadamu.”

Dua kata terakhir, “Awwalur Rizqi”, agak jarang diketahui orang. Saya memang terbiasa mengenalkan diri dengan dua kata awal dalam nama saya semata-mata karena tidak mudah menuliskan dua kata terakhir ini dengan benar. Artinya tidak susah ditebak karena kata-kata ini sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia: “rizqi yang pertama.”

Apa maknanya secara keseluruhan? Sepertinya orangtua saya mendambakan anak pertama mereka menjadi orang yang terpuji, yang berusaha mengikuti langkah yang ditorehkan manusia paling mulia yang terpilih sebagai pembawa risalah Tuhan yang terakhir. Barangkali, mereka juga berharap anak pertama mereka terlahir sebagai rizqi bukan hanya untuk keluarga tapi untuk setiap orang yang ditemuinya. Atau mungkin, mereka sedang kere saat saya lahir. :p

Apa pun itu, saya bersyukur atas nama yang mereka berikan ini. Kata orang, nama adalah doa. Dan salah satu tanggung jawab orang tua kepada anaknya adalah memberikan nama terbaik. Saya yakin, kita tak butuh aplikasi apa pun untuk memahami arti nama kita, karena mereka lah, ayah bunda kita, yang paling tahu doa dan harapan yang mereka tanamkan saat menganugerahi nama itu kepada kita.

Jadi, selamat menyelami arti namamu!

Standard
Opinion

Surat Sederhana buat Najwa Falisha

Dear Najwa Falisha…

Bagaimana kabarmu? Semoga selalu sehat dan ceria seperti dirimu dulu ya. Ah, masih terekam jelas di benak ini masa kecilmu yang penuh tawa itu, kamu yang selalu bangun dan bermain sampai tengah malam, yang sering menghabiskan hari berlarian di rumah dengan senyum centilmu itu, dan mendadak sibuk ngoceh dengan bahasamu sendiri saat om-mu ini datang menyapamu.

Om tahu, saat surat ini ditulis kamu belum cukup besar untuk membacanya. Dan saat kau pada akhirnya membacanya, mungkin sudah tak kau ingat lagi Om-mu yang menulis surat ini. Tapi tak apa-apa. Tanpa harus mengingat Om-mu pun surat ini toh, seperti sejatinya tulisan-tulisan lain, akan tetap ada dan terekam di kertas kusam ini karena menulis itu seperti bekerja untuk keabadian.
Continue reading

Standard