Project

Musk dan Mars

The Martians will be us – Carl Sagan

Pak tua berkumis itu tengah sibuk bersama teleskopnya. Tatapannya fokus ke depan sementara jari-jemarinya yang bergetar sibuk menuliskan apa yang dilihatnya di buku catatannya. “Double canals came out by flashes, convincing of reality,” tulisnya di buku catatannya kala itu. Percival Lowell namanya. Inisialnya, “PL”, diabadikan sebagai huruf depan dari “Pluto” untuk mengenang usahanya di Lowell Observatory mencari planet asing ke-9 itu. Tetapi, dalam dekade terakhir hidupnya, Lowell justru terobsesi kepada benda langit lain yang lebih dekat, planet merah yang bermalam-malam ia amati dari teleskopnya. Dia lah orang yang memulai spekulasi tentang adanya “kanal-kanal” di permukaan Mars yang kemungkinan dibangun oleh para Martians (penduduk Mars), klaim fantastis yang beberapa tahun kemudian dipatahkan oleh Alfred Russel Wallace, ilmuwan Inggris yang namanya kita kenal saat SD sebagai nama garis yang membagi area Indonesia menjadi dua itu.

Musk and Mars


Seratus tahun berlalu. Kini, Mars tak lagi asing bagi kita. Belasan satelit telah dikirim ke sana sejak tahun 90-an. Saat ini saja tercatat ada 4 satelit dan 3 robot yang masih aktif menjelajah dan mempelajari si planet merah. Kita bahkan bisa melihat peta permukaan Mars layaknya Google Maps lengkap sampai ke kontur tanahnya. Faktanya: tidak ada kanal, apalagi Martians, setidaknya sampai tulisan ini dibuat! Saya pun ikut bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dicatat Lowell sebagai “canals” seabad lalu itu. Mungkin saat itu keterbatasan teknologi telah membuat hasil pengamatannya tak akurat. Atau barangkali, seperti ditulis Carl Sagan dalam bukunya Cosmos, pengamatan Lowell saat itu lebih dikarenakan pengaruh dari dalam dirinya sendiri yang memang ingin percaya bahwa Mars dihuni makhluk cerdas seperti kita. Mungkin, sikap Lowell ini tak ubahnya sikap para jomblo saat ini yang saking ingin meyakinkan diri sendiri bahwa jodohnya sudah dekat sampai-sampai semua yang baik padanya dianggap modus dan kode. Mars, tetangga kita itu, semata-mata karena kemiripan dan kedekatannya dengan Bumi, telah menjadi tempat harapan manusia tertanam akan keberadaan “rumah kedua” bagi makhluk hidup seperti kita.

Seratus lima tahun usai klaim Lowell soal Mars dan kanal-kanalnya yang mengejutkan banyak orang, dunia kembali dibuat gempar. Kali ini penyebabnya bukan bapak-bapak berkumis seperti Lowell, tapi seorang lelaki paro-baya kelahiran Afrika Selatan yang mengklaim bahwa dirinya bisa membawa manusia terbang ke Mars dalam 10-20 tahun dan bahkan akan membangun koloni di sana dalam 30 tahun. Barangkali kalau yang melempar klaim bombastis itu cuma rempah rengginang seperti saya, paling banter cuma akan ditertawakan orang saja. Tapi, kalau orang yang mengeluarkan statement itu adalah seorang pebisnis, engineer, sekaligus penemu yang berada di balik sistem pembayaran online (PayPal), memimpin perusahaan mobil listrik (Tesla), menggawangi perusahaan penyedia pembangkit listrik tenaga surya (SolarCity), serta ujung tombak perusahaan roket tingkat dunia (SpaceX), tentu itu bukan klaim sembarangan.

Elon Musk, nama lelaki itu, bukan cuma lempar wacana belaka. Dalam sebuah webinar yang disiarkan secara langsung ke seluruh dunia September tahun lalu, ia menjabarkan dengan detail soal rencananya membangun sistem transportasi antar planet yang aman dan terjangkau. Bagaimana caranya? Ternyata, idenya justru terbilang sederhana. Untuk menekan biaya penerbangan roket saat ini, Musk memulai dengan mendesain sistem pendorong roket yang bukannya langsung dibuang seperti sistem roket klasik, tapi bisa digunakan berkali-kali. Sistem pendorong roket yang dikembangkan SpaceX saat ini sudah punya kemampuan ini: mereka bisa kembali ke tempat peluncurannya secara otomatis! Ini saja sudah sangat menghemat ongkos penerbangan roket. Tapi, Musk tidak berhenti di sini. Kebutuhan bahan bakar yang tidak sedikit untuk bisa membawa roket ke Mars, yang jika dibawa dari Bumi membuat beban roket bertambah signifikan, justru dipasok di orbit melalui International Space Station (ISS) milik NASA. Di sini, ISS yang merupakan salah satu satelit buatan yang mengelilingi Bumi ini jadi seperti pom bensin yang bertugas mengisi ulang bahan bakar roket sebelum diluncurkan ke Mars. Terakhir, yang tak kalah penting, sesampainya di Mars, roket juga harus bisa kembali lagi ke Bumi. Caranya adalah dengan membuat bahan bakar di Mars menggunakan bahan-bahan yang ada di planet itu. Jadi, roket tak perlu repot-repot bawa bahan bakar banyak dari Bumi untuk perjalan pulang.

Sederhana, ya? Sekilas memang terdengar begitu. Tapi, justru mencari solusi yang sederhana itu lah yang tidak mudah. Apa yang dilakukan Musk adalah cerminan orang yang benar-benar memahami masalah. Ia tak memulai semuanya dari nol, tapi justru mengamati sistem penerbangan roket klasik dan berusaha mencari apa akar masalah di balik mahalnya biaya penerbangan saat ini dan mengapa sistem transportasi manusia antar planet belum terwujud. Solusi yang ditawarkannya adalah usaha mengoptimasi dari apa-apa yang sudah ada sebelumnya. Musk tidak memulai dengan “Apa yang bisa saya buat?”, melainkan “Apa masalahnya dan apa yang bisa saya lakukan untuk menyelesaikannya?” Cara berpikir seperti ini yang menurut hemat saya justru seringkali tidak dimiliki oleh para mahasiswa teknik kita, atau setidaknya saya saat mahasiswa dulu. Kita terlalu sering berbangga dengan hal-hal bombastis yang kita bisa buat dengan ilmu keteknikan yang kita punya, yang seringkali sama sekali tak punya nilai jual karena memang tak dibutuhkan orang, dan melupakan akar masalah yang semestinya dipecahkan.

Apakah ide gila Musk akan berhasil? Saya tidak tahu. Idenya brilian tapi masih banyak komponen persoalan yang belum terpecahkan. Satu hal yang saya yakini: kalaupun dia tak berhasil membawa manusia ke Mars, usaha yang telah dilakukannya sudah cukup menginspirasi inovator-inovator selanjutnya untuk melanjutkan apa yang telah ia rintis. Bisa jadi, “kanal-kanal” yang dilihat oleh Percival Lowell di permukaan Mars seratus tahun yang lalu itu suatu saat nanti bisa jadi kenyataan, dibangun oleh entitas cerdas yang lahir dan tumbuh besar di Mars, the Martians, anak cucu manusia Bumi yang bermigrasi dan menetap di sana. Ya, seperti kata Carl Sagan dalam bukunya: The Martians will be us.

Referensi:

Eksplorasi aktif Mars saat ini: https://www.nasa.gov/mission_pages/mars/missions/index.html

Google “Mars” berisi peta Mars: https://www.google.com/mars/

Video Presentasi Elon Musk soal kolonisasi Mars:

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Musk dan Mars

  1. Elon Musk implementasi adagium ini ya, di pengembangan roket,

    المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

    Melestarikan metodologi lawas tetapi masih relevan (sistem penerbangan roket) dan mengambil langkah perbaikan inovatif untuk selanjutnya (membuat roket yang bisa digunakan berkali-kali). Jangan-jangan mas Elon ini wong NU 😜

    Semoga kita juga bisa implementasi di bidang keilmuan masing-masing.

    • ahmadataka says:

      Betul sekali, kangmas. Adagium tadi itu sebenarnya sangat penting di semua bidang ilmu. Cuma kadang nggak segampang itu dipraktekannya.

      Hehehe. Diajak masuk NU aja itu, mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s