Opinion

Menjadi “Ayah”

“Mas, itu adiknya dinasehati,” demikian penggalan kata-kata Ibu di Line pagi itu. Belasan bulan lalu, pesan seperti ini bisa dibilang agak jarang. Saya adalah orang terakhir di rumah yang akan dimintai tolong Ibu untuk menasehati adik-adik. Peran ini biasa dijalani oleh bapak saya (allahuyarhamh). Selain karena saya yang jarang berada di rumah, saya seringkali tidak terlalu tegas di hadapan adik-adik. Barangkali karena terlalu sayang atau mungkin “tahu diri” bahwa posisi saya sebagai kakak lebih kepada mendampingi dan menyemangati, bukannya menceramahi mereka. Nasehat seorang kakak tentu tetap perlu, tetapi porsinya tidak besar dan lebih sebagai pelengkap bagi nasehat-nasehat bapak dan ibu. Semuanya jadi berbeda sejak kepergian bapak beberapa bulan lalu.

abi

Saat saya ziarah ke makam beliau usai mendarat di Adisucipto dua hari pasca pemakaman, yang berkecamuk di benak saya adalah bagaimana agar ibu dan adik-adik saya bisa terus beraktivitas seperti sedia kala. Saking cintanya bapak pada ibu, bapak selalu berusaha sedapat mungkin memberi ibu lebih banyak peran di rumah. Selama ini, ibu lebih banyak membantu pekerjaan bapak di Kaus Pintar dan mengajar adik-adik sepulang sekolah. Kalaupun dulu ibu pernah bekerja, itu hanya sebatas menawarkan barang dagangan teman atau menjadi guru les privat saja. Beliau lebih banyak beraktivitas sebagai pengurus komunitas PKK di kampung serta penanggung jawab keungan dan kenyamanan rumah. Sore itu, di hadapan pusara bapak saya bertekad melanjutkan “amanah” beliau ini, bahwa selama saya masih diberi rizqi kesehatan, saya tidak mau melihat ibu bekerja di luar rumah.

Selama ini, bapak saya juga selalu memastikan anak-anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Tahun depan adik saya Atya akan lulus dari jenjang SMA. Adik saya Bintang juga akan lulus dari jenjang sekolah dasar di saat yang bersamaan. Sebelum itu, keduanya juga harus melewati Ujian Nasional dan ujian masuk perguruan tinggi bagi Atya serta ujian masuk SMP bagi Bintang. Keduanya pun mesti mempersiapkan diri lebih dari sebelumnya, termasuk mencari universitas atau sekolah mana yang terbaik untuk mereka. Tentu saja, di zaman ini sekolah berkualitas hampir selalu menuntut biaya yang tidak sedikit. Meski begitu, saya tetap bertekad akan memastikan adik-adik saya mendapat tempat terbaik bagi pendidikan mereka. Selama ini bapak tidak pernah mengeluh selama bekerja keras mencari biaya menyekolahkan kami. Lalu, mengapa saya harus mengeluh sekarang?

Saya pun berpikir keras dan mulai menghitung biaya-biaya yang dibutuhkan. Alhamdulillah, karena gaya hidup yang normal-normal saja selama studi, uang beasiswa bulanan saya selalu sisa. Kalau dihitung-hitung, ditambah pemasukan sebagai asisten di kampus, rasa-rasanya bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga kami yang sederhana. Paling saya perlu bekerja lebih keras agar bisa menabung untuk bekal masa depan. Tetapi, seminimal-minimalnya, ibu dan adik-adik insyaallah bisa melewati masa-masa sulit pasca kepergian bapak ini dengan tanpa harus mengkhawatirkan biaya hidup mereka.

Saat saya kemudian kembali ke Inggris, saya kira tantangannya sudah terjawab di situ. Ternyata saya salah.

Beberapa bulan berlalu dan saya mendapat tantangan-tantangan baru yang tak pernah terpikir sebelumnya. Keuangan keluarga rupanya cuma satu dimensi tanggung jawab saja. Selain itu saya juga harus mengawasi perkembangan belajar adik-adik, mencari kegiatan produktif buat ibu, menyelesaikan pertengkaran-pertengkaran harian adik-adik, membuat perencanaan masa depan untuk mereka, dan masih banyak lagi. Semua itu saya lakukan dari jarak jauh sembari melanjutkan studi saya. Terkadang saya video call dengan mereka di Lab sembari mempersiapkan eksperimen. Tak jarang juga saya dengarkan curhatan mereka di kantor, ditemani kertas-kertas berisi publikasi ilmiah. Kerap kali saya kebingungan ketika dihadapkan pada dua pilihan untuk menjawab kegelisahan Ibu dalam suatu persoalan.

Ternyata, menjadi “ayah” itu tidak mudah. Kadang saya berpikir, bagaimana bapak bisa mengemban amanah ini selama 25 tahun tanpa pernah mengeluh, bagaimana beliau selalu berhasil menyembunyikan kegelisahan-kegelisahan dan memberikan ketenangan buat anak-anaknya. Sering saya merenung tatkala dihadapkan pada beberapa pilihan: apa yang kira-kira akan beliau lakukan di posisi saya saat ini?

Esok, tepat 46 tahun beliau terlahir di dunia. Dalam waktu yang terbilang singkat itu saya menjadi saksi betapa beliau telah berhasil menjadi ayah yang luar biasa buat anak-anaknya. Saya belum pernah berkesempatan mengucapkan ini di hadapan beliau, tapi hari ini saya katakan:

Seorang anak tak bisa memilih siapa yang menjadi ayahnya, tapi saya bersyukur dilahirkan sebagai anak dari seorang ayah sepertimu.

Semoga saya bisa belajar dari apa yang telah beliau contohkan, sehingga bisa menjadi “ayah” buat anak-anak beliau dan menjadi ayah buat cucu-cucu beliau nanti.

 

London, 28 September 2015.

Standard

3 thoughts on “Menjadi “Ayah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s