Project

Al-Kindi, Pencetus Analisa Frekuensi pada Cryptanalysis

Sudahkah anda menonton film The Imitation Game[1]? Film yang dirilis tahun 2014 ini berkisah tentang bagaimana Alan Turing (diperankan dengan sangat baik oleh Benedict “Sherlock” Cumberbatch), seorang cryptanalyst Inggris, berusaha memecahkan kode di balik mesin Enigma milik Nazi atas perintah Inggris pada Perang Dunia ke-2. Kegemilangan Turing dan timnya memecahkan kode Mesin Enigma ini bahkan disebut-sebut ikut membantu menghentikan perang dua tahun lebih awal [2]. Ilmu cryptanalysis sendiri, sebutan untuk bidang ilmu yang berusaha mengupas aspek tersembunyi dari suatu sistem,  telah berkembang pesat sejak era Turing berlalu. Sayangnya, tak banyak dari kita yang tahu bahwa meskipun istilah cryptanalysis sendiri tergolong baru, dokumen pertama yang memuat metode klasik pemecahan kode justru muncul di kitab seorang ilmuwan Muslim di abad ke-9 [3].

Al-Kindi sebagaimana ditampilkan pada perangko Syria [10].

Continue reading

Advertisements
Standard
Project

Jam Al-Jazari dan Robot Humanoid Generasi Awal

Awal 2017 silam, portal berita Guardian memuat tulisan editorial bombastis yang menggemparkan: Robots will destroy our jobs – and we’re not ready for it! [1] Katanya: berbagai macam pekerjaan yang selama ini dimonopoli oleh manusia dilaporkan terancam akan punah, diambil alih oleh robot. Memang diprediksi akan bermunculan pekerjaan-pekerjaan baru akibat perkembangan robotika ini, tapi tetap saja dampaknya diprediksi akan sangat mempengaruhi kehidupan manusia dalam beberapa tahun ke depan. Robotika sebagai disiplin ilmu memang mengalami perkembangan pesat dalam dua dekade terakhir, di mana robot yang semula hanya dipakai di pabrik-pabrik saja kini mulai merambah ke berbagai aplikasi lain di sekeliling kita, seperti medis dan servis. Tak heran kalau robotika termasuk di antara teknologi paling disruptif saat ini [2]. Tapi, tak banyak yang tahu kalau salah satu sosok yang paling bertanggung jawab pada pengembangan awal teknologi ini adalah seorang engineer Muslim yang namanya sayangnya tak banyak kita dengar.

Sketsa Jam Gajah Al-Jazari dalam kitabnya, Kitab fi Ma’rifat al-Hiyal al-handasiyya.

Continue reading

Standard
Project

Musk dan Mars

The Martians will be us – Carl Sagan

Pak tua berkumis itu tengah sibuk bersama teleskopnya. Tatapannya fokus ke depan sementara jari-jemarinya yang bergetar sibuk menuliskan apa yang dilihatnya di buku catatannya. “Double canals came out by flashes, convincing of reality,” tulisnya di buku catatannya kala itu. Percival Lowell namanya. Inisialnya, “PL”, diabadikan sebagai huruf depan dari “Pluto” untuk mengenang usahanya di Lowell Observatory mencari planet asing ke-9 itu. Tetapi, dalam dekade terakhir hidupnya, Lowell justru terobsesi kepada benda langit lain yang lebih dekat, planet merah yang bermalam-malam ia amati dari teleskopnya. Dia lah orang yang memulai spekulasi tentang adanya “kanal-kanal” di permukaan Mars yang kemungkinan dibangun oleh para Martians (penduduk Mars), klaim fantastis yang beberapa tahun kemudian dipatahkan oleh Alfred Russel Wallace, ilmuwan Inggris yang namanya kita kenal saat SD sebagai nama garis yang membagi area Indonesia menjadi dua itu.

Musk and Mars

Continue reading

Standard
Journal

Anak Muda berikut akan mengubah Persepsimu tentang Santri

Di tengah hingar-bingar peringatan Hari Santri Nasional di jejaring sosial, sebuah tulisan iseng secara tak sengaja muncul di Timeline Facebook:

“Santri, tidaklah lantas melulu menjadi guru agama, ustadz, dan penghulu.”

Tulisan tadi menarik karena secara tidak langsung menunjukkan betapa masyarakat masih memandang santri dalam perspektif yang sangat sempit. Seolah-olah kalau lulusan pesantren itu kerjanya ya “hanya” guru agama, ustadz, atau penghulu saja. Bukannya saya merendahkan profesi-profesi tadi. Masing-masing toh punya peran yang tak bisa dianggap remeh di masyarakat. Tapi, saya kemudian bertanya, benarkah peran santri khususnya di Indonesia hanya sebatas pada pekerjaan-pekerjaan tadi? Mungkin, kita perlu “piknik” sejenak dan berkenalan dengan nama-nama di bawah ini, mereka yang berlatarbelakang santri, tapi prestasinya di bidang keilmuan dan pengabdian masing-masing telah mengubah persepsi saya tentang “santri”.
Continue reading

Standard
Academic

The good and bad of being a research student: Refleksi Sembilan Bulan Studi Doktoral

Sebuah pesan baru masuk ke e-mail saya pagi itu. Saya pun seketika meletakkan kertas berisikan persamaan-persamaan matematis di tangan kiri ke atas meja kerja dan berhenti melanjutkan coding yang tengah saya susun. Pengirim pesan itu tak saya kenal. Sepertinya bagian akademik kampus. Tujuan utamanya adalah supervisor saya. Saya menerima pesan itu karena e-mail saya ikut dicantumkan sebagai tembusan. Membaca isinya membuat saya tertegun sejenak:

The expected start date of the upgrade period for Ahmad Ataka Awwalur Rizqi has now been reached

Pesan itu mengabarkan bahwa secara legal formal saya sudah bisa di-“upgrade” menjadi Ph.D Student. Sistem studi doktoral di UK memang mengharuskan mahasiswa menempuh masa “9 bulan percobaan” sebagai Ph.D Candidate sebelum menempuh ujian transfer antara bulan ke-9 hingga ke-18. Artinya, saat ini sudah 9 bulan saya menempuh studi di sini. Sembilan bulan… Sedemikian cepat waktu berlalu…

kcl
Continue reading

Standard
Project

Control: What’s it all about?

Judul di atas adalah pertanyaan yang pernah diajukan pada saya sewaktu kuliah dulu. Sebagai mahasiswa Teknik Elektro konsentrasi Ilmu Kendali, saya cukup sering ditodong pertanyaan macam itu oleh adik-adik angkatan yang masih mencari jati diri dan bertanya-tanya konsentrasi mana yang akan diambilnya. Lucunya, saya seringkali kesulitan untuk menjawabnya. Bahkan sampai sekarang pun tidak mudah bagi saya untuk menjawab pertanyaan ini. Apa sih sebenarnya ilmu kendali itu? Apa yang menjadi fokus bahasannya? Apa hubungannya dan bedanya dengan bidang ilmu lain? Dan mungkin yang tak kalah penting: Apa sih masalah yang sebenarnya ingin dipecahkan oleh bidang ilmu ini?

"Jika setiap instrumen bisa menyelesaikan pekerjaan sendiri, mematuhi atau mengantisipasi kehendak instrumen lain, jika pesawat berkelok-kelok dan pik menyentuh kecapi tanpa tangan untuk menggerakkan mereka, mandor tidak akan butuh pegawai dan tuan tidak akan butuh budak." - Aristoteles

“Jika setiap instrumen bisa menyelesaikan pekerjaan sendiri, mematuhi atau mengantisipasi kehendak instrumen lain, jika pesawat berkelok-kelok dan pik menyentuh kecapi tanpa tangan untuk menggerakkan mereka, mandor tidak akan butuh pegawai dan tuan tidak akan butuh budak.” – Aristoteles

Continue reading

Standard
Project

Yang Paling Sulit dari Motion Planning

Sepanjang saya belajar robotika selama ini, bidang motion planning adalah salah satu bidang yang paling rumit. Persoalan yang berusaha dipecahkan adalah bagaimana membuat robot bergerak dari suatu konfigurasi awal ke konfigurasi akhir tanpa bersentuhan dengan rintangan-rintangan di sekitarnya. Sekilas terdengar sederhana, tapi nyatanya tidak. Kalau gampang, tidak mungkin supervisor mengizinkan saya memilih topik ini untuk bahan penelitian doktoral saya.

planning

Continue reading

Standard